Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

TREND TEKNOLOGI 3D PRINT MASAKINI

Beberapa Orang tidak mengetahui bahwa teknologi 3D printer bukanlah teknologi yang baru. Faktanya teknologi 3d printer ini sudah ada pengajuan hak paten sejak tahun 1986. WAOW..sudah lama sekali kan ya?. Dari berbagai sumber yang kami rangkum, doctor asal jepang Dr. Hideo Kudama adalah orang pertama yang mengajukan patent untuk penemuan alatnya “rapid prototyping” dengan menggunakan sinar laser. Tetapi sayangnya karena masalah pendanaan maka pengajuan hak patent doctor asal jepang ini tidak dikabulkan.

3D Print

Tetapi berdasarkan Scopus, topik mengenai Printer 3D mulai muncul pada tahun 1972 melalui sebuah dokumen berjudul ”3d printing of the Bolsho? Medical Encyclopedia” yang ditulis oleh I.P. Lidov dan A.M. Stochik. Berarti sebelum professor jepang sudah ada wacana 3D printing yang belum diajukan untuk hak patent.

Scopus mencatat peningkatan drastis publikasi topik ini yakni 1376 publikasi terindeks pada 2018. Padahal, pada tahun 2010 hanya terindeks sebanyak sepuluh publikasi saja.

Hari ini, teknologi 3D printing berkembang sangatlah cepat. Mulai dari benda kecil semacam kancing baju sampai bangunan gedung bertingkat sudah dapat dibuat dengan teknologi 3D print. Bangunan besar pertama yang dibangun dengan menggunakan 3D print terletak di negara Dubai, yaitu area perkantoran Dubai Future Foundation. Markas ini dibangun menggunakan bahan khusus yang terbuat dari beton, plastik yang diperkuat dengan fiber dan gips yang diperkuat glass fiber. Negara kaya raya tersebut meresmikan gedung tersebut pada maret 2016.

Bangunan dengan 3D Print (Sumber : hitechglitz.com)

Kemudian pada tahun 2018 di negara Kincir Angin, Belanda sukses membuat jembatan dengan teknologi cetak 3D. Jembatan tersebut terbuat dari lapisan baja cair dan memiliki panjang 12 meter dan lebar 6 meter.

Jembatan Teknologi 3D Print (Sumber : properti.kompas.com)

Bagaimana dengan Perkembangan 3D Printer di Indonesia?

Teknik 3D printing sebenarnya sudah masuk Indonesia sejak 2010 namun waktu itu belum maksimal penggunaanya. Kemudian pada tahun 2014 dosen UGM, yakni Dr. Eng. Herianto, S.T., M.Eng berkolaborasi dengan para mahasiswa mulai mengembangkan riset mengenai Printer 3D. dikutip dari ugm.ac.id Bapak Heri mengaku bahwa awalnya memulai dengan membeli produk Printer 3D secara impor. Dari barang itu, ia bersama timnya membongkar untuk kemudian diteliti dan dipelajari tiap komponennya. Hasilnya dalam satu tahun kemudian berhasil membuat satu prototype awal Printer 3D karya sendiri. (Memang pintar kan ya….)

Sementara itu, saat ini riset tersebut sudah mencapai tahap produksi. Printer 3D karya Bapak Heri bersama timnya tersebut kini sudah dipakai oleh beberapa universitas, akademi, politeknik, SMK, serta beberapa UMKM.

Harga alat 3D printing sekarang tergolong murah, tipe yang paling murah bisa dibanderol 2jt-an sampai 5jt-an. Cocok bagi anda yang suka hobi dan UMKM. Yang mahal juga ada, kisaran 50-100jt.

Untuk transfer gambar .STL yang mau d print ke mesin 3D print dapat menggunakan Flashdisk, atau untuk 3D print terbaru bisa lewat cloud, semisal wifi maupun kabel LAN. Merk Sindoh dengan software 3DWOK1 seperti yang dimiliki POLBAN Bandung, alat ini dapat transfer gambar ke alat dengan menggunakan wifi dan kabel LAN.

Apakah sudah cukup hanya dapat membuat dan mengoperasikan teknologi ini? Harusnya tidaklah kan ya..

Teknologi 3D Print sekarang sudah berkembang di Indonesia, tugas selanjutnya adalah menggunakan dan mengembangkan teknologi ini. Menggunakan 3D print sehingga dapat membuat produk-produk yang bernilai tinggi, dan mengembangkan alat sehingga teknologi ini dapat memproduksi sesuatu yang rumit dan dapat digunakan oleh masyarakat umum. Sehingga kita tidak akan kalah dengan negara lain yang sudah dapat membuat gedung-gedung dan sesuatu yang unik.

Landjudgan....!!!!!

Posting Komentar untuk "TREND TEKNOLOGI 3D PRINT MASAKINI"